Make your own free website on Tripod.com

Charles Darwin Centre 2001 - Proposal

 

 

 

 

Program

Penanaman Jati Emas Plus

Fast Growing Golden Teak

(Tectona grandis L.)

Skala 1000 Ha,

Jumlah tanaman 2.000.000 pohon

 

 

 

 

 

 

 

 

Charles Darwin Centre

for Social and Environmental Studies

Jalan Jati Mulya Nomor 24, Pejaten, Jakarta Selatan

2001

 

 

 

MAKSUD DAN TUJUAN

 

Jati Emas Plus sangat menarik untuk dijadikan pilihan investasi yang menguntungkan. Jati Emas Plus sangat cocok dengan iklim wilayah Indonesia dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Dengan bibit yang terseleksi baik, Jati Emas Plus dapat tumbuh lebih dari tiga kali lebih cepat dari jati biasa. Karenanya, penanaman Jati Emas Plus dapat diandalkan menjadi cara memperoleh pendapatan daerah yang tinggi, kesejahteraan masyaarakat sekaligus upaya melestarikan lingkungan.

 

Dalam perencanaan ini kami memakai paradigma demand side approach dan paradigma sistem agribisnis serta paradigma pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Paradigma pertama menunjukkan bahwa kami hanya berminat untuk mengembangkan komoditas kehutanan yang memiliki prospek pasar yang jelas. Paradigma kedua adalah pemahaman yang menyeluruh terhadap agribisnis mulai dari penyediaan sarana produksi, kegiatan budidaya, pengolahan hasil, pemasaran serta subsistem penunjangnya. Paradigma ketiga berupaya menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan peningkatan mutu lingkungan serta kesejahteraan masyarakat secara luas.

 

Program penanaman sampai pemanenan Jati Emas Plus selama 15 tahun. Pada tahun ke 6 dan 10 akan diperoleh pemasukan dari penjarangan pohon yang sudah layak jual. Total pendapatan bersih sampai akhir program kami projeksikan sebesar Rp. 1.094.308.300.000. Jumlah tersebut di atas sudah memperhitungkan pengurangan pajak sebagai perusahaan sebesar 30% dari keuntungan. Sementara itu total dana yang diperlukan pada awal program yaitu dari tahun ke 1 sampai tahun ke 5 sebesar Rp. 61.000.000.000. Analisis finansial memprojeksikan IRR sebesar 31%, NPV pada suku bunga 12% sebesar Rp. 205.576.000.000 dan BCR sebesar 15,7.

 

Kami yakin program ini sangat prospektif. Suplai bibit yang terjamin kualitasnya, jaminan pembelian berdasarkan harga pasar yang berlaku, kehandalan perencanaan untuk menembus sertifikasi ekolabeling serta keseriusan dan komitmen pengelola merupakan aset yang sangat penting bagi keberhasilan program ini. Untuk itu program ini akan diawali dengan studi kelayakan yang komprehensif.

 

LATAR BELAKANG

 

Kebutuhan kayu nasional akan meningkat dari tahun ke tahun, seiring dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Selama ini sebagian besar kebutuhan masyarakat akan kayu dipenuhi dari penebangan hutan alam, baik secara legal maupun ilegal. Luas hutan yang berkurang sebagai akibat konversi ke peruntukan lain, penurunan potensi tegakan dan pembalakan yang tidak memperhitungkan riap tegakan adalah sebab-sebab yang mengakibatkan pada suatu ketika kebutuhan kita tidak terpenuhi.

 

Menggantungkan suplai kayu kepada hutan alam adalah hal yang mustahil pada masa yang akan datang. Karena di samping kebutuhan yang semakin besar, keberadaan kayu dari hutan alam akan semakin langka. Kelangkaan kayu dari hutan alam ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah:

1.        Potensi dari hutan alam yang semakin berkurang

2.       Kebutuhan dunia yang meningkat

3.       Konversi hutan produksi menjadi peruntukan lain

 

Mengantisipasi kelangkaan kayu tersebut, perlu dilakukan upaya proaktif agar kebutuhan masyarakat akan kayu dapat terpenuhi. Upaya-upaya yang mungkin dilakukan adalah penanaman pohon penghasil kayu dalam jumlah besar dan mempunyai kualitas yang baik.

 

Upaya di atas memerlukan ketersediaan dua hal penting yaitu lahan yang luas dan pemilihan jenis pohon yang ditanam. Dalam hal penyediaan lahan, pengembangan hutan rakyat dapat dipilih sebagai alternatif yang sangat mungkin dilakukan. Hutan rakyat di sini adalah budidaya tanaman hutan yang diusahakan di atas tanah masyarakat dan dikerjakan dengan melibatkan masyarakat. Mengingat pendanaan hutan rakyat ini bersifat komersial maka ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam pemilihan jenis tanaman agar dana yang dikucurkan dapat kembali secara menguntungkan. Kriteria tersebut antara lain:

 

1.        Bernilai ekonomi tinggi

Kayu yang dihasilkan bukan hanya dapat dijual sebagai bahan baku satu jenis industri atau dapat dimanfaatkan secara domestik untuk pertukangan saja, melainkan juga memiliki banyak kegunaan sehingga pada saat pemanenan, tidak mengalami masalah dalam pemasaran.

2.       Daur Cepat

Kayu yang dibudidayakan harus cepat tumbuh dan dapat segera dimanfaatkan, tidak terlalu lama menunggu masa panen. Hal ini berhubungan dengan investasi yang telah ditanam agar dapat cepat kembali.

3.       Mudah dibudidayakan

Mengingat bahwa yang akan melangsungkan projek nanti adalah masyarakat, maka jenis yang dibudidayakan harus dipilih dari jenis yang tidak sulit dibudidayakan (mudah tumbuh) dengan metode yang sederhana.

4.       Memungkinkan untuk dibudidayakan secara tumpangsari

Syarat ini tidak terlalu prinsip, tetapi dapat memberikan nilai tambah bagi penanaman pohon tersebut. Terutama jika penanaman pohon tersebut melibatkan masyarakat, maka tanaman tumpangsari akan memberikan tambahan pendapatan yang signifikan.

 

 

KOMODITAS

 

Tanaman Jati Emas Plus memenuhi keempat syarat di atas. Jati Emas Plus merupakan hasil pengembangan bibit lebih dari 40 tahun. Melalui terobosan bioteknologi, masa tegakan pohon jati dapat dipersingkat dari semula di atas 40 tahun menjadi diatas 5 tahun. Bibit diseleksi dari bank bibit yang beraneka ragam.

 

Bibit prima Jati Emas Plus memiliki kecepatan pertumbuhan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan bibit jati konvensional. Pada usia 5-7 tahun pohon telah mencapai diameter 20-25 cm dengan tinggi 12-14 m dan sudah dapat dipanen serta dapat dijamin kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya.

 

Salah satu karakteristik utama pohon Jati Emas Plus adalah tingkat kelurusan yang sangat tinggi dengan cabang dan ranting sedikit. Ketinggian mencapai 30 meter pada usia tua. Batang utama sangat bulat dan kulit tidak terlalu kasar seperti jati lainnya. Kayu yang dihasilkan berwarna kuning keemasan yang cerah dan diklasifikasikan sebagai kayu keras ringan dengan densitas sekitar 700 kg/m3. Tekstur serat kayu cenderung lebih lurus sehingga mudah digunakan sebagai kayu dekorasi. Jika usia kedewasaannya terlampaui akan kebal terhadap serangan rayap atau jamur dan tahan terhadap cuaca, seperti tidak membusuk akibat matahari atau hujan.

 

 

BUDIDAYA JATI EMAS PLUS

 

 

Lingkungan Agronomi

 

Pada dasarnya pohon Jati Emas Plus membutuhkan persyaratan dan kondisi-kondisi yang cocok dengan iklim tropika di Indonesia. Persyaratan lingkungan yang penting antara lain :

v         total curah hujan antara 1500 mm hingga 2500 mm/tahun

v         kisaran temperatur antara 22C pada malam hari hingga 35C pada siang hari

v         derajat keasaman (pH) antara 4,5 hingga 7

v         jenis tanah ideal adalah lempung berpasir dengan aerasi yang baik dan lapisan top soil sangat subur

v         dapat hidup pada ketinggian 50-800 meter dpl

v         tanah di lahan Jati Emas Plus tidak boleh terendam air

 

 

Pola Tanam

 

Jati Emas Plus ditanam dalam lubang dengan ukuran masing-masing 30x30x20 cm. Jarak tanam yang digunakan adalah 2,5x2 meter, sehingga satu hektar dapat menampung 2000 pohon. Untuk meningkatkan jumlah pohon yang ditanam, masyarakat sekitar hutan dapat dilibatkan dalam pelaksanaan penitipan pohon di lahan mereka, hal mana pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan kesejahteraan masyarakat setempat.

 

Setelah Jati Emas Plus ditanam, perlu dilakukan kegiatan penyulaman, pemupukan dan perawatan serta pemangkasan. Penyulaman dilakukan apabila ada tanaman yang mati atau tidak bagus tumbuhnya. Untuk penyulaman ini dicadangkan 10% dari total tanaman. Pemupukan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh secara optimal. Pupuk yang diberikan terdiri dari pupuk hayati mikorhiza, NPK dan pupuk kandang. Sedangkan perawatan dilakukan agar tanaman tetap sehat. Perawatan ini berupa pencegahan tanaman terkena serangan dari jamur, serangga dan gulma (tanaman pengganggu). Pemangkasan terutama ditujukan untuk membentuk pohon agar tetap tumbuh tegak. Pemangkasan dilakukan dengan cara membuang cabang dan ranting serta daun yang dianggap tidak perlu.

 

Panen yang sebenarnya dilakukan saat usia tanaman 15 tahun di mana diameter pohon rata-rata sudah mencapai 37 cm atau lebih. Namun demikian mulai usia tanam 5 tahun pemanenan kayu sudah dapat dilakukan. Rata-rata diameter pohon saat itu sudah mencapai 20 cm dan sudah layak jual. Panen pada usia ini bersifat penjarangan, yaitu pengurangan jumlah pohon agar pohon yang tersisa dapat tumbuh optimum. Penjarangan pada usia ini dilakukan sebanyak 50 % dari populasi. Dengan demikian setelah penjarangan I jarak antartanaman menjadi 4 x 2,5 m.

 

Panen tahap II dilakukan mulai usia tanam 10 tahun. Pada saat ini diameter pohon rata-rata sebesar 27 cm. Penjarangan dilakukan sebanyak 25 % dari populasi awal tanam, atau setengah dari jumlah populasi yang ada setelah dilakukan penjarangan tahap I. Setelah penjarangan tahap II jarak antartanaman menjadi 4 x 5 m.

Tabel 1. Dimensi Pohon Jati Emas Plus Muda Berdasarkan Usianya

 

No

Periode

Diameter

Tinggi

1

6 bulan

3 s/d 3,5 cm

2,5 s/d 3 meter

2

10 bulan

5 s/d 6 cm

5 s/d 6 meter

3

18 bulan

7 s/d 8,5 cm

6,5 s/d 7,5 meter

4

20 bulan

10 s/d 11 cm

8 s/d 9 meter

5

30 bulan

11 s/d 12,5 cm

> 11 meter

 

 

Tabel 2. Dimensi dan Projeksi Volume Pohon Jati Emas Plus Dewasa

Berdasarkan Usianya

 

No

Periode

(Tahun)

Diameter

Tinggi Pohon

Volume perPohon

1

5 - 7

25 cm

12 meter

0.345 m3

2

8 - 10

27 cm

14 meter

0.744 m3

3

11 - 15

37 cm

17 meter

1.719 m3

 

Tabel 3. Perbandingan Nilai Ekonomi antara Jati Emas Plus (Tectona grandis L.) dengan Jati Konvensional

 

Jati Emas Plus (Myanmar)

Jati Konvensional (Lokal)

 

 

Umur 5 Tahun

Umur 5 Tahun

Tinggi

12 meter

Tinggi

2 meter

Diameter

20 cm

Diameter

3.5 cm

Nilai Ekonomi

Layak jual

Nilai Ekonomi

tidak layak jual

 

 

Umur 5 s/d 8 Tahun

Umur 5 s/d 8 Tahun

Tinggi

12 16 meter

Tinggi

3.5 meter

Diameter

25 30 cm

Diameter

8 cm

Nilai Ekonomi

Potong jual

Nilai Ekonomi

tidak layak jual

 

 

PROSPEK JATI EMAS PLUS

 

Nilai Komersial Tanaman Jati Emas Plus

 

v             Jati Emas Plus memiliki reputasi dunia sebagai kayu paling awet dan dianggap sebagai kayu yang ideal.

v             Di Eropa dan Amerika dikenal 10 jenis kayu utama yaitu Pine, Spruce, Larch, Douglas Fir, Oak, Elm Beech, Hickory dan Walmut yang rata-rata nilai susutnya dua kali Jati Emas.

v             Dari segi kualitas Kayu Jati Emas Plus unggul karena mudah dalam pengerjaan masinal, densitas kayu tinggi, mudah dibentuk serta tahan akan lama.

v             Pohon Jati Emas Plus memiliki karakteristik yang sangat sesuai untuk pertamanan, penghijauan dan tanaman hias.

v             Kualitas dan harga per kubik lebih tinggi dibandingkan kayu pertukangan lain, karena susut kayu < 0.5 kali.

v             Kayu Jati Emas Plus memiliki keunggulan dalam warna, lebih cerah daripada jati klasik yang berwarna coklat tua, hingga kini menjadi trend setter dalam tradisi warna funiture di Amerika, Jepang dan Eropa.

 

Aspek Pemasaran

 

v             Kayu jati sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri meubel berkualitas tinggi.

v             Industri moulding dan parquet flooring akan mendapatkan jenis kayu yang sangat memadai dalam volume, proses kerja dan nilai tambahnya.

v             Industri bahan bangunan bagi perumahan menengah atas yang kian membutuhkan kusen dan pintu bermutu tinggi.

v             Kayu Jati Emas Plus dapat digunakan untuk mengisi kebutuhan industri plywood akan suatu jenis bahan perantara di mana bisa dikembangkan rotary-cut face veneer jenis baru maupun fancy plywood.

v             Kayu Jati Emas Plus dapat juga dimanfaatkan untuk substitusi kayu bulat yang berasal dari HPH hutan alam yang sudah tidak dapat memenuhi permintaan domestik.

v             Pangsa pasar kayu jati yang tidak dapat dipenuhi oleh pasar domestik akan sangat mudah diserap oleh kayu Jati Emas Plus.

v            Produk jati yang berasal dari HTI akan menjadi lebih mudah lolos dari sertifikasi ekolabeling dibandingkan kayu yang berasal dari hutan alam apabila dikelola dari awal dengan cara yang memperhitungkan seluruh aspek ekologi, produksi dan sosial.

 

 

Aspek Sosial Ekonomi bagi Masyarakat Sekitar

 

Mengingat penanaman Jati Emas Plus memerlukan area yang cukup luas, maka dampak sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar penting artinya bagi keberhasilan program. Besarnya luasan yang digunakan membawa konsekuensi yaitu relatif lemahnya pengawasan terhadap satuan tanaman. Dengan demikian hubungan baik dengan berbagai pihak terutana masyarakat sekitar harus dibangun sehingga keberadaan kebun Jati Emas Plus dirasakan manfaatnya serta dipertahankan kelangsungannya. Beberapa hal positif yang dapat dirasakan pihak-pihak terhadap keberadaan kebun Jati Emas Plus antara lain :

v               Terbukanya kesempatan kerja secara langsung bagi masyarakat sekitar kebun terutama pada tahap awal penanaman, penjarangan dan pemanenan.

v               Terdapatnya kesempatan bagi masyarakat untuk juga menanam Jati Emas Plus melalui penitipan di lahan-lahan mereka, sehingga masyarakat mempunyai tabungan untuk masa depan.

v               Melalui program tumpang sari tanaman antara tanaman pertanian dan tanaman Jati Emas Plus dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat setempat untuk menambah penghasilan.

v               Penanaman Jati Emas Plus memberikan dampak sosial yang sangat positif bagi daerah lokasi program. Dampak itu antara lain tingkat pemanfaatan lahan yang semakin intensif, kesempatan kerja dan lebih terbukanya daerah bagi teknologi dan inovasi.

v               Bagi pemerintah daerah lokasi Penanaman Jati Emas, beroperasinya kebun dapat memberikan peningkatan pendapat daerah baik secara lansung berupa pajak dan retribusi legal lainnya maupun berupa multiplier effect lainnya. Hal tersebut akan sangat membantu pemerintah kabupaten dalam rangka autonomi daerah.

 

 

Aspek Ekologi

 

v            Kecepatan tumbuh Jati Emas Plus yang tiga kali lebih cepat (fast growing species) dibandingkan jati konvensional sehingga mempunyai nilai ekologi yang sangat baik dalam menjaga dan melestarikan alam terutama tanah dan air.

v            Kondisi fisiologi tanaman Jati Emas Plus sangat ramah serta mampu menahan air tanah melalui sistem perakarannya, tingkat respirasi yang rendah (1000-2000 mm/tahun), tingkat penyerapan unsur hara seperti air dan zat-zat anorganik cenderung tidak boros sehingga akan menjaga dan menambah kesuburan tanah dan sangat cocok untuk program reboisasi, reklamasi, reforestasi dan penghijauan lahan.

v            Bentuk pohon jati emas yang lurus dan tajuk yang sedikit melebar di bagian kanopinya sangat memungkinkan untuk ditanam bahkan pada lahan dan ruang yang terbatas di daerah perkotaan.

v            Daun Pohon Jati Emas berukuran relatif lebar dan terdapat bulu-bulu yang akan lebih mampu menjerap polutan atau bahkan menyerapnya. Jati Emas Plus dapat dipandang sebagai hutan rakyat maupun program absorpsi polutan terutama debu dan zat tercemar udara lainnya.

v            Penanaman (reforestasi) dan penghijauan akan memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam mengurangi tekanan yang amat berat dialami hutan alam.

 

 

Aspek Finansial

 

Program penanaman Jati Emas Plus sangat layak dilakukan jika dilihat dari analisis finansial. Hal ini ditunjukkan oleh hasil IRR yang cukup besar yaitu 31%, BCR = 15,68 dan nilai NPV pada tingkat suku bunga 12% cukup besar.

 

Tabel 4. Portofolio Investasi

 

Uraian

Nilai

Jumlah Dana Yang diperlukan

Rp. 61.000.000.000

Jangka Waktu Investasi

15 Tahun

Total Penerimaan

Rp. 1.694.396.300.000

Total Keuntungan sebelum Pajak

Rp. 1.586.365.100.000

Keuntungan setelah Pajak

Rp. 1.094.308.300.000

Tingkat Pengembalian

31%

Arus kas positif bersih

Mulai tahun ke 6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

 

 

 

1.        DCF Analysis

2.       Projeksi Arus Kas

3.       Projeksi Laba Rugi

4.       Projeksi Produksi dan Penerimaan

5.       Projeksi Investasi Peralatan Budidaya dan Infrastruktur

6.       Projeksi Biaya Langsung

7.       Projeksi Penerimaan

8.       Struktur Organisasi